Perjalanan Seorang Ant











{17 Agustus 2016}   keyakinan hati

di saat aku mencari keyakinan hati tentangmu, kau malah menjauh…



{3 April 2013}  

 

 

 

 

 

jjjjj

DSC07065

 

lllll;

DSC07068

 



{2 April 2013}   Cinta Yang Tertunda

Akhirnya aku dan dia dipertemukan kembali dalam acara reuni akbar sekolah kami. Benang-benang ikatan yang dulu telah terputus-putus, entah bagaimana caranya seperti menyatu kembali. Enam tahun telah berlalu sejak hari perpisahan itu dan kini kami saling berhadapan. Diam, terpaku, menahan harunya hati yang gersang. Bukit-bukit rindu menyatu dengan luasnya lautan kasih. Banyak kata-kata yang sudah menunggu dengan tidak sabar di ujung lidah untuk menghambur keluar. Memaksa, menerjang deretan gigi dan katupan bibir yang rapat. Waktu seolah berhenti di sekitar kami, seperti hanya ada aku dan dia.

Reuni akbar sekolah kami ini dihadiri oleh semua alumni dari berbagai angkatan. Bahkan sampai-yang bisa dibilang angkatan orang tua kami. Suasananya sangat ramai, tenda super luas dengan deretan kursi yang berbaris rapi serta bunga dan pita yang terpajang manis. Lautan manusia bak pasukan semut yang tengah menghambur keluar dari markas ratunya. Ini pertama kalinya aku menginjakkan sepatuku lagi di sekolah ini setelah enam tahun lamanya. Ada perasaan haru menyeruak di antara kalbu, mata seolah sudah membuat sebuah komitmen dengan perasaan hati, akan mengeluarkan butir-butir kristal airnya jika hati tengah bersedih atau terharu. Aku datang bersama seorang sahabatku Anne . Anne, dia punya butik pakaian wanita yang super trendy, dia juga punya salon kecantikan yang bisa dibilang cukup mewah untuk kelas menengah atas.

Dalam acara ini, tiba-tiba aku dan satu teman lamaku diminta untuk menyanyikan kembali lagu yang pernah kami bawakan saat kami mengikuti lomba menyanyi di sekolah dalam rangka Ulang Tahun Emas Sekolahku. Lagu lawas yang berjudul Kemesraan ciptaan seorang penyanyi legendary, Iwan Fals.

Seorang pembawa acara tiba-tiba saja memanggil nama kami berdua.

“Baiklah semuanya, untuk memeriahkan acara kita, bagaimana jika kita minta duo legendaris yang pernah ada di sekolah kita untuk menyanyikan sebuah lagu??”, tanya sang pembawa acara.

“iyaaaaa…”, jawab lantang beberapa anak perempuan yang hadir. Sepertinya mereka adalah adik-adik kelas kami yang mungkin tiga atau empat tahun lebih muda dari kami.

“Baiklah kalau begitu mari kita sambut, sang duo legendaris Juna Leonarta dan Yoko Dinata….”, teriak si pembawa acara menggebu-gebu.

Paaakkk.. seperti ada yang memukul keras kepalaku. Aku sangat terkejut, siapa dia yang sudah berani menyebutkan namaku dengan begitu keras. Seolah-olah aku adalah seorang biduan yang harus menghibur semua tamu yang datang. Tapi, aku tak bergeming. Aku tetap duduk tenang, walau sebenarnya hatiku sangat tidak tenang. Jantungku berdegup keras, seolah ada gelombang dahsyat  yang mengguncang-guncang jantungku, ‘Juna?? Dia datang??’, tanyaku bertubi-tubi dalam hati. Tiba-tiba fikiranku melayang, menembus belantara waktu yang rimbun, hingga akhirnya sampai di satu titik, memori tujuh tahun silam, saat aku dan Juna diminta wali kelasku dan teman-teman satu kelasku untuk mengikuti lomba menyanyi antarkelas. Mereka berkata, Juna punya suara yang sangat menarik, sedangkan suaraku memang pas-pasan tapi aku sangat pandai dalam hal bermain piano. Juna Leonarta, dia teman satu kelasku sejak kelas 1. Nama belakangnya hampir mirip dengan namaku Dinata. Mungkin orang tuanya terobsesi dengan sang aktor Leonardo DiCaprio, tapi itu tidak mungkin Leonardo terkenal karena film James Cameron’s Titanic dan itu pada tahun 1997. ^^ (ignore) Awalnya aku menolak, tapi teman sekelasku mengancam, jika aku tidak ikut, aku akan dilempari telur busuk setiap hari, jatah makan siangku akan diambil alih oleh Mini yang super duper doyan makan, tugas piket setiap hari, dan yang lebih parahnya lagi mereka akan menghapus semua mp3 atau video band kesukaanku Peterpan yang ada di handphone-ku. Mau tak mau, suka tak suka, akhirnya aku ikut lomba itu.

Juna memang memiliki suara yang sangat khas, suaranya berbeda dari orang kebanyakan, tidak serak, tidak lembut, apalagi cempreng. Aku sendiri tidak bisa menjelaskan dimana letak perbedaan suaranya itu dengan orang-orang atau bahkan artis sekalipun. Tapi satu hal yang tidak bisa ku pungkiri, aku sangat suka saat dia menyanyi dengan gitar bututnya, aku merasa seperti ditarik oleh sebuah inti magnet untuk mengikuti iramanya menyanyi.

Tiba-tiba tubuhku berguncang tak karuan. Temanku Anne, dia terus mengguncang tubuhku, seolah ingin membuatku sadar jika ini semua adalah nyata.

“Yoko.. heiii Yoko… Ayo maju.”, bisik Anne padaku.

“Ahhh kenapa?”, tanyaku, seperti orang linglung yang baru saja kehilangan belanjaan di pasar.

“Yaaahh malah nanya kenapa lagi, sana maju. Tuuh tuuhh, Juna sudah maju.”, jawab Anne lagi.

Gleeeg.. Aku menelan ludahku bulat-bulat. Juna, dia sudah ada di atas panggung. Berdiri dengan sangat percaya dirinya. Akhirnya dengan langkah gontai tapi malu-malu aku melangkah maju ke depan.

“Halllo semua, apa kabar? Sepertinya kalian baik-baik saja.”, buka Juna.

“Kak Leoooonnn, kak Leoooonnn….”, teriak anak-anak perempuan itu lagi.

“Ha ha ha (Juna tertawa), orang yang berdiri di depan kalian saat ini bukanlah Leon, tapi Juna. Leon itu adalah nama panggungku dan sekarang aku datang bukan sebagai seorang artis, tapi seorang Juna alumni SMA Bangsa angkatan 2007.”, balas Juna sambil memainkan jarinya membentuk simbol ‘peace’. Semua orang pun tertawa. Termasuk aku.

‘Ternyata dia tidak berubah’, batinku. Juna?? Dia sekarang sudah menjadi seorang aktor muda terkenal. Dia salah satu anggota dari Mix-Band. Selain menyanyi dengan bandnya, dia juga sering menjadi bintang iklan, ftv bahkan sinetron sekalipun.

“Aku sangat senang bisa hadir di acara ini dan bertemu kembali dengan guru-guru tercinta dan juga teman-teman seperjuangan yang gila. Dan sepertinya sekolah kita cukup banyak perubahan ya. Lihat tulisan label sekolah kita itu, dulu menurutku tidak sebesar itu. Ha ha ha.. ”, lanjut Juna sambil tertawa.

“Ahh ya, bagaimana denganmu Yoko?”, tanya Juna tiba-tiba.

“Aaahhh iya.. Maaf, sebelumnya, perkenalkan namaku Yoko Dinata. Aku juga alumni angkatan 2007.”, jawabku gugup.

“Aku juga sangat senang bisa hadir di sini. Bertemu dengan guru-guru, teman-teman, kakak, dan adik-adik yang datang ke acara ini. Walau dari kita banyak yang ‘belum’ mengenal satu sama lain, setidaknya lewat acara ini kita bisa saling mengenal. Dan aku sangat terkejut, bagaimana bisa panitia masih ingat tentang duet itu?? Itu sudah sangat lama, sudah tujuh tahun yang lalu.”, sambungku sambil tersenyum malu.

Dan akhirnya aku dan Juna bernyanyi lagu yang sama seperti dulu, Kemesraan. Tapi kali ini aku bernyanyi dengan memainkan sebuah gitar, karena di sini tidak ada piano yang bisa aku mainkan. Sambil bernyanyi Juna berjalan dan turun dari panggung menuju meja kepala sekolah. Aku tebak dia akan mengajak kepala sekolah untuk menyanyi bersama. Dan benar saja, Juna mengajak Pak Lubis untuk bernyanyi bersama. Tapi ada satu hal lagi yang membuat jantungku seperti ingin melompat keluar dari rongga dada. Juna mengambil sebuah bunga anggrek ungu dari vas bunga yang ada di meja kepala sekolah saat itu dan memberikannya padaku. Aku malu-malu, ini kali keduanya Juna memberikan bunga seperti ini di hadapan orang banyak setelah perlombaan tujuh tahun silam. Oh ya, kami disebut debagai duo legendaris karena kamilah yang memenangkan perlombaan itu, dan kenapa disebut legendaris?? Karena kami menang di saat Ulang Tahun Emas Sekolah kami. (Ulang Tahun Emas tidak akan terjadi lagi kan?? Ha ha ha…….)

Setelah selesai bernyanyi, kami mendapat banyak tepuk tangan dari para tamu. Mungkin bagi Juna itu adalah hal yang biasa, dia sudah sering tampil di hadapan ratusan bahkan ribuan penonton. Tapi bagiku ini hal yang luar biasa.

Entah bagaimana bisa, tiba-tiba aku mengatakan beberapa kata di luar praduga tak bersalahku.

Pak Lubis, maaf, bunganya tidak bisa saya kembalikan. Mau saya bawa pulang pak.”, kalimat itu mengucur deras dari mulutku.

“Yaaa tidak bisa itu, kalau kamu mau bawa pulang bunga itu, yaa kamu bersihin toilet dulu.”, jawab Pak Lubis cekatan. Semua orang tertawa.

Dengan sedikit manyun tapi jahil aku langsung menjawab,

“Kalau begitu si Juna aja deh Pak yang bersihin toiletnya, kan Juna yang nyomot nih bunga dari meja Bapak”, Juna terlihat sedikit kaget dengan jawabanku. Aku hanya tersenyum melihat air mukanya yang terkejut. Pak Lubis dan tamu yang lainnya pun tertawa geli.

Tiba-tiba suara si pembawa acara tadi, yang aku tebak pasti dia lebih muda setidaknya dua tahun dariku ini menggema dahsyat di panggung tempatku berdiri. Sepertinya dia sangat bersemangat memimpin acara ini.

“Pak Lubis, kira-kira ada tidak kejadian yang mungkin tidak pernah bisa Bapak lupakan dari kak Yoko dan kak Juna??”, tanya si pembawa acara tiba-tiba. Aku tahu sebenarnya pertanyaan ini hanya untuk mencari tahu tentang kehidupan Juna saja, dan aku?? Aku hanya menjadi bumbu tambahan dari pertanyaan ini.

“Hhhmm… yaah yaahh… sepertinya ada, satu, ya satu kejadian.”, balas pak Lubis seperti berfikir.

“Bisa diceritakan sedikit tidak pak, mengingat mereka adalah duo legendaris sekolah kita.”, balas si pembawa acara lagi dengan penasaran.

Tiba-tiba kakiku bergetar, aku sedikit gugup untuk mendengarkan cerita pak Lubis.

Pak Lubis pun tertawa,

“Ha ha ha… Saya ingat, waktu itu mereka masih kelas 2 dan kejadian itu setelah acara perlombaan menyanyi. Saat itu saya dan bu Yuni sedang berkeliling sekolah, memonitor keadaan belajar mengajar tiap kelas. Tapi setibanya kami di kelas 3B, kami bingung tidak ada satupun batang hidung dari murid kelas 3B yang terlihat. Saya bertanya pada bu Yuni ‘apa kelas 3B sedang olahraga?’, bu Yuni menjawab kalau kelas 3B sedang tidak ada guru karena guru yang mengajar sedang mengikuti seminar sebagai perwakilan dari sekolah. Akhirnya saya dan bu Yuni mencari murid-murid yang lepas dari kandang ini ke seluruh penjuru sekolah dan kalian tahu kami menemukan mereka dimana??”, tanya pak Lubis.

Semua menggeleng, kecuali kami tentunya, mantan murid kelas 3B.

“Mereka tengah berkumpul di halaman belakang sekolah. Seperti sekelompok kambing gembala yang sedang bermain di padang rumput. Saya dan bu Yuni mendekati mereka. Dan saat sadar kami datang, mereka semua terkejut dan terdiam di tempat. Tapi…..”, tiba-tiba pak Lubis berhenti sejenak.

Aku hanya bisa menahan nafas untuk mendengar lanjutan cerita sang kepala sekolah.

“Saya dan bu Yuni malah lebih terkejut lagi dari mereka, ini dua bocah yang berdiri di panggung ini, asyik-asyikan bertingkah seperti sepasang monyet di atas pohon mangga sambil makan tuh buah mangga dan bernyanyi riang. Ha ha ha…”, sambung pak Lubis tertawa lepas dengan suara beratnya.

What is this?? Konyol. Kenapa kejadian memalukan itu harus terungkap di ratusan pasang mata seperti ini. Aaahh….. Aku seperti sedang dieksekusi karena kekonyolanku sendiri. Aku ingat saat itu, aku dan Juna bertingkah seperti seekor monyet yang bergelantungan di atas pohon. Dan akhirnya kami satu kelas dihukum berdiri di lapangan upacara dalam posisi hormat bendera. Sedikit aku mencuri pandang ke arah Juna, ingin melihat bagaimana reaksinya. Wajahnya juga sedikit memerah, aku tebak dia juga sepertinya sedikit malu. Satu dari sekian banyak tingkah konyol masa lalu seorang artis yang bernama Juna akhirnya terungkap. Ha ha ha….

Sekarang saatnya acara santai. Aku dan Anne dengan cepat mencari teman-teman satu kelasku, teman seperjuangan. Akhirnya kami bertemu dengan Deki, Arya, Natan, Ello, Friska, Mini, Nadya, dan Angel. Kami sangat senang, saking senangnya kami berjingkrak-jingkrak membentuk lingkaran. Deki dan Arya sekarang sudah bekerja di bagian marketing sebuah perusahaan swasta ternama, Natan bekerja di sebuah Bank, Ello menjadi guru olahraga di SMA Bangsa kami. Friska?? Dia menjadi seorang model majalah fashion, Mini bersama kedua orang tuanya membuka sebuah resto ayam bakar yang lezat (aku dan Anne sering berkunjung ke restonya Mini), Nadya menjadi seorang design interior, dan Angel bekerja sebagai tour guide di Bali. Tapi mereka hanya segelintir dari teman-teman sekalasku. Banyak yang tidak ikut dalam acara ini. Mungkin mereka sibuk dengan kerjaan mereka, atau mungkin mereka sudah menikah dan harus mengurus keluarga mereka. Baru sebentar saja aku memikirkan hal itu, tiba-tiba ada seorang perempuan dengan menggendong bayi cantiknya menyapa kami semua.

“Nora….”, teriak Friska tak percaya.

Ya.. dia Nora. Nora juga teman satu kelasku. Tapi, apa ini?? Siapa bayi cantik ini?? Bayi Nora kah?? Jadi Nora sudah menikah?? Aku tidak pernah mendengar berita pernikahannya. Mulai banyak pertanyaan yang bergelayut di otakku. Apakah otakku ini ingin ber-transform menjadi detektif?? Haaah…..

Hi semua. Waaahhh udah berapa lama ya kita gak ketemu??”, tanya Nora tersenyum.

            “Enam tahun gitu.”, jawab Mini sontak.

            “Eh, siapa bayi cantik ini?”, tanya Ello.

“Ini anak gue, namanya Biyanka.”, jawab Nora malu-malu.

“Haahh serius loe Nor?? Emang kapan loe nikahnya, kok gue gak tau ya??”, tanya Friska sewot.

Nora cuma bisa tersenyum menjawab pertanyaan Friska yang menurutku seperti tengah “mengintimdasi” Nora. Aku cuma bisa menghela nafas melihat tingkah Friska yang tidak berubah sejak SMA.

“Yoko, Anne.. thanks ya..”, tiba-tiba Arya bersuara.

“Thanks? untuk apa ni Ya??”, tanyaku balik. Anne mengangguk.

“Iya Ya, thanks apa nih??”, sambung Anne penasaran.

Dulu kalian udah nolongin aku. Ingetkan soal kaca pecah dan sakit adikku?? Gue udah tau semuanya kok. Kalau bukan karena kalian gue gak tau sekarang keq giman.”, jawab Arya lagi sambil melirik Juna.

Aku terdiam. Lagi-lagi fikiranku melayang, terbang terbawa angin menuju enam tahun silam. Saat itu kami sudah duduk di kelas 3. Kami mulai serius mempersiapkan ujian akhir. Tidak sedikit dari kami yang mengurangi aktivitas yang tidak berhubungan dengan sekolah. Seperti aku, aku mulai berhenti sementara dari les pianoku. Tampak di lamunanku kami semua tengah berkumpul di kelas kami. Tidak ada kelas hari itu, guru yang seharusnya mengajar kami tidak masuk karena sakit. Jadilah kelas kami penuh dengan lautan canda-tawa, teriakan anak manusia yang tak merasa bersalah sedikitpun karena sudah pasti mengganggu kelas lainnya yang bersebelahan, suara gitar bututnya Juna dan gentakan tangan anak laki-laki di meja. Arya sebagai ketua kelas kami pun terlihat pusing melihat tingkah polah kami, sudah lebih dari enam kali dia meminta kami untuk diam. Bahkan sudah beberapa kali juga bu Yuni yang tengah mengajar di kelas sebelah datang ke kelas kami sekadar meminta kami untuk diam, tapi apa daya, kami hanyalah sekumpulan anak manusia yang tengah berbahagia karena tidak ada pelajaran. Setelah bu Yuni kembali ke kelasnya, perlahan Arya berjalan menuju ke depan kelas yang kosong. Tanpa peringatan apapun, tanpa ba bi bu lagi sesuatu hal yang dahsyat terjadi seketika.

‘Praaaaaaannggg…..’, tiba-tiba saja tanpa terlihat, sebuah bangku telah berhasil memecahkan satu kaca jendela kelas kami. Arya berhasil, sempurna, dia berhasil memutar balikkan suasana kelas 180 derajat, yang tadinya hingar bingar seperti pasar swalayan sekarang menjadi hening bak pekuburan. Setelah merasa berhasil membuat kami diam dan terkaget-kaget, Arya dengan tenangnya meninggalkan kelas. Semua teman-temanku terlihat bingung, tapi ada juga yang merasa ketakutan. Aku sendiri?? Aku benar-benar terkejut, bagaimana tidak, kaca jendela yang jaraknya hanya satu meter dari tempat dudukku tiba-tiba pecah berhamburan. Aku sedikit meringis menahan beberapa goresan luka di tanganku akibat serpihan kaca. Juna melihat padaku dan sesekali melihat tanganku yang terkena serpihan kaca tadi. Juna seolah mengerti apa yang mataku katakan, ‘kejar Arya!!’. Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada Arya. Setahuku, dia adalah murid yang cerdas dan tidak berulah karena aku sudah mengenalnya sejak kecil. Aku pun menyusul Juna yang mengejar Arya. Aku tak menghiraukan bu Yuni yang berteriak marah di kelas kami, terkejut atas apa yang sudah terjadi.

Juna terlihat menggamit tangan Arya agar tidak pergi lagi. Aku mendekati mereka takut sesuatu terjadi. Aku bertanya dan terus bertanya pada Arya apa yang terjadi. Mungkin aku sedikit memaksa dan itu membuat Arya kesal padaku. Dia menatap tajam padaku, tapi aku membalas tatapannya tanpa rasa takut. Arya mendengus kesal dan bersiap beranjak pergi. Aku menahannya tapi tiba-tiba Arya menepis tanganku dengan sekuat tenaga hingga aku terjungkal ke belakang. Sepertinya sudah ada setan kecil yang merasuki tubuhnya, tertawa terpingkal-pingkal melihatku duduk terjatuh. Juna terlihat mulai marah, tanpa jeda Juna mendekati Arya dan…….

‘Buuuuuuggghhh……’, Juna memukul Arya dengan bogem mentahnya tanpa ragu. Aku sedikit cemas, terlihat Arya dan Juna akan berkelahi. Untunglah bu Yuni datang tepat pada waktunya. Aku sedikit lega walau akhirnya kami bertiga harus mau digiring kembali ke ruang kelas kami. Setelah mendapatkan semua penjelasan yang memuaskan, akhirnya diputuskan Arya akan diskors selama tiga hari saja mengingat ujian akhir sudah dekat dan Arya juga harus mengganti kerusakan yang sudah dilakukannya karena dengan sengaja dia melakukan hal itu. Sedangkan aku, Juna dan teman sekelas lainnya, kami dihukum oleh kepala sekolah untuk membersihkan gudang dan toilet selama tiga hari karena kami juga lah peristiwa itu terjadi.

Hari ini adalah hari keempat setelah perkara itu terjadi. Tapi hari ini Arya tidak masuk sekolah, lagi. Teman-teman yang lain pun entah sadar atau tidak tentang hal ini. Saat pulang sekolah aku dan Anne berinisiatif pergi ke rumah Arya.

“Assalammu’alaikum..”, aku dan Anne mengucapkan salam sambil mengetuk pintu sebuah rumah kecil nan sederhana.

“Wa’alaikumsalam..”, terdengar jawaban dari dalam dan pintu terbuka.

“Eeehh Yoko. Ayo masuk.”, tawar ibu Arya. Ternyata ibu Arya masih mengenali aku.

“Hhmmmm.. Gak usah tante, makasih, kita ke sini cuma mau ketemu sama Arya kok.”, tolakku lembut pada ibunda Arya.

“Lhooooo…. Aryanya belum pulang ini.”, jawab ibu Arya.

“Arya belum pulang tante??”, tanya Anne kemudian.

“Iya… Emangnya kalian gak ketemu Arya di sekolah??”, tanya ibu Arya lagi. Tapi terdengar jelas, nada bicaranya ada sedikit kekhawatiran.

“Ooohh.. bukan gitu tante, kirain Aryanya udah pulang. Soalnya kita mau ngajak Arya ke perpustakaan kota tante. Mungkin Aryanya udah duluan kali ya ke perpusatakaannya.”, balasku sedikit berbohong agar ibunya tidak khawatir. Aku tahu ibu Arya pasti belum tahu tentang masalah kaca pecah itu.

“Kalau gitu kita pamit dulu ya tante.”, timpalku lagi.

Tapi sebelum kami beranjak dari pintu itu, terdengar suara anak kecil menangis keras dari dalam rumah. Aku bertanya siapa yang menangis. Dan ternyata adik bungsu Arya sedang sakit keras. Adiknya terkena usus buntu dan baru saja selesai dioperasi. Uang tabungan yang ibu Arya dan suaminya kumpulkan selama ini untuk biaya sekolah Arya dan kedua adiknya sudah habis terpakai untuk biaya pengobatan adiknya. Sekarang aku mengerti semuanya, apa yang tengah mengganggu fikiran Arya beberapa hari ini.

Saat aku dan Anne pulang dari rumah Arya tanpa sengaja aku melihat Arya tengah bekerja menjadi kernet bus kota. Aku bukan merasa iba padanya, tapi aku merasa sakit, karena dia adalah teman satu kelasku, sahabat kecilku. Dia adalah murid berprestasi. Tapi nasib belum berpihak padanya, ayahnya meninggal saat Arya duduk di kelas dua SMA. Untuk hidup empat orang, uang pensiunan itu cukup apa?? Hanya cukup untuk makan sehari-hari, belum lagi dua orang adiknya yang juga bersekolah. Ibunya hanya seorang pedagang sayur di pasar. Awalnya Arya ingin berhenti sekolah, untungnya pihak sekolah mau memberikan beasiswa untuk Arya karena Arya adalah murid yang cerdas, setidaknya itu sedikit meringankan pundak ibunya.

Semua anak masih bertanya-tanya tentang perkara beberapa hari yang lalu. Akhirnya aku dan Anne menceritakan semua perihal masalah yang menimpa Arya. Anne mengusulkan untuk sumbangan membantu Arya mengganti kerusakan kaca jendela. Aku sebenarnya kurang suka dengan kata sumbangan, menurutku sokongan itu lebih indah. ^^v Teman-teman sekelaspun setuju. Akhirnya aku dan Juna menemui bu Lusi untuk memberikan uang sokongan dari teman-teman. Kami minta bu Lusi tidak mengatakan tentang ini pada Arya, kami minta bu Lusi bilang kalau pihak sekolah mencabut tuntutan ganti rugi itu. Bu Lusi pun setuju dan dia berkata sangat bangga memiliki murid-murid seperti aku dan teman-teman satu kelasku.

“Helllooooooowww… Sadar woooyyy….”, tiba-tiba telingaku berdenging dahsyat. Seperti ada paku tajam yang menghantam gendang telingaku. Suara cempreng Friska membuat lamunanku buyar, hilang, kembali ke masa sekarang.

“Kayaknya dalem banget lamunan lu Ko..”, timpal Natan.

“Cieeee.. Yang lagi ngelamunin masa-masa SMA..”, sambung Minni lagi.

Ha ha.. Kalo gue sih mau ngelamunin apa lagi coba?? Tiap hari gue di sini, jadi semuanya berasa nyata di depan mata gua..”, celetuk Ello.

Semua yang mendengar celetuk Ello tertawa seketika. Teman-temanku ini sudah tertarik, terbawa, dan terhanyut akan zaman. Mereka sudah mulai menggunakan kata elo-gue, untung gak berakhiran ‘end’, ha ha ha…

“Oh ya, kita tau kok, sebenernya dulu duit sokongan kita itu kurang kan? Terus lu deh yang nyumbangin semua duit jajan lu buat Arya. Iya kan??”, tanya Friska tiba-tiba menggodaku.

What?? Dari mana mereka tahu semuanya?? Aku terus berfikir, dan aku baru ingat. Dulu saat aku menghitung uang di bawah tangga, ternyata uang yang dikumpulkan masih kurang. Tanpa ragu aku memberikan semua uang jajanku hari itu. Yang di fikiranku cuma satu, Arya harus tetap bersekolah karena Arya sahabat kecilku. Tiba-tiba Juna mengagetkanku.

“Hei.. Lagi ngapain kamu di bawah tangga gini??”, tanya Juna.

“Hhmmm… mau nilep duit sokongan tadi ya?? Hayooo ngaku..”, timpal Juna lagi.

“Ihhhh.. enak aja, gak level lah yeee..”, balasku cepat.

“Udah yuk, temenin aku nemuin bu Lusi. Mau ngasiin ni duit. Kan bu Lusi wali kelas kita, biar afdol gitu.”, ajakku.

Aku tersadar dari lamunanku karena lagi-lagi Friska menjerit keras tepat di telinga kananku. Rasanya ingin sekali kusumpal mulutnya itu dengan setumpuk cabe rawit. Sejenak aku melirik pada Juna, Juna hanya tersenyum seperti mengiyakan apa yang otakku tanyakan.

Acarapun selesai dengan sukses. Meluncur manis di tengah-tengah cuaca cerah dan sejuk. Aku seperti malas beranjak pulang. Teman-temanku sendiri sudah pulang sejak tadi, bahkan aku menolak ajakan Anne yang akan mengantarku pulang. Aku ingin lebih lama, lebih lama mengenang semua kisah yang pernah terjadi. Entah magnet apa yang menarikku hingga aku berjalan sampai ke halaman belakang sekolah ini. Masih tampak pohon mangga sang monyet dan sebuah bangku panjang bertengger mantap di bawah sang pohon. Ku keluarkan kamera kecilku, jariku mulai bermain lincah menekan tombol kamera. Klik klik klik… aku memotret semua yang kulihat saat itu. Kakiku mulai melangkah mendekati bangku panjang itu, lagi-lagi jemari tanganku bermain lincah di kameraku. Dan aku terhenyuk saat melihat ke layar kameraku, sesosok lelaki tengah berdiri dengan dua gelas minuman di tangannya. Juna. Kami berdiri saling berhadapan, sejenak kami saling pandang. Kemudian, dia terlihat tersenyum padaku.

Akhirnya kami berdua duduk di bangku panjang ini. Hening, hanya desiran angin yang kudengar.

“Nih, minum. Kamu pasti haus.”, Juna memecah hening.

Aku hanya tersenyum dan mengambil minum yang diberikan Juna.

“Jadi inget ceritanya pak Lubis tadi deh.”, balasku kemudian.

“Ha ha ha… Iya. Sebenernya aku malu banget tadi pas pak Lubis certain semuanya.”, balas Juna terkekeh.

Hening.

“Kenapa kamu gak dateng waktu acara perpisahan sekolah dulu??”, tanya Juna tiba-tiba serius. Suasana terasa serius saat itu, pohon mangga dan bangku ini juga seperti sedang menunggu jawabanku. Mereka seperti mendesakku, ‘ayo jawab’. Aku hanya bisa menarik nafas panjang.

“Waktu itu aku harus berangkat lebih awal ke Amerika. Kakakku sudah menungguku di sana.”, balasku malas.

“Trus, kenapa kamu milih sekolah di Amerika?? Di Jakarta kan banyak universitas yang bagus.”, tanya Juna lagi lebih serius.

“Karena kamu gak minta aku untuk tetap tinggal.”, balasku sekenanya.

Aku tahu, Juna terkejut mendengar jawabanku. Aku juga terkejut, bagaimana bisa kata-kata itu meluncur sederas itu. Aku rasa, urat malu-ku sudah terputus karena racun dari minuman yang diberikan olehnya.

“Setelah aku cerita tentang rencana study-ku itu, aku selalu nunggu kamu bilang, ‘Yoko, jangan pergi!!’. Aku terus nunggu, setiap hari, setiap waktu di kelas, aku nunggu kata-kata itu hingga akhir sekolah. Tapi aku sadar, kamu gak akan pernah mengatakan kata-kata itu.”, balasku sambil tersenyum getir.

“Bisakah, aku mengatakan itu sekarang??”, tanya Juna lemah.

“Haahh?? Heiiiiyy.. Jangan bercanda. Aku gak akan pergi ke Amerika lagi. Aku sudah mendapatkan pekerjaan yang ‘cukup’ layak di kota ini. Ha ha ha..”, balasku kemudian. Pahit, benar-benar pahit. Kupaksakan untuk bercanda dalam kata-kataku.

Hening sesaat.

Aku melirik jam tanganku. Sudah pukul 4 sore.

“Sudah sore. Aku harus pulang, sebentar lagi kakakku mau ngejemput aku. Kamu gak mau pulang hah? Atau saking rindunya kamu mau nginep di sekolah kita ini??”, tanyaku pada Juna sambil terkekeh. Berusaha untuk terlihat ceria di depannya.

“Aku juga mau pulang kali’, tapi kayaknya bentar lagi deh.”, jawab Juna.

“Okelah kalo gitu, aku duluan ya.”, balasku sambil beranjak dari dudukku.

Baru tiga langkah aku berjalan, tiba-tiba suara khas itu menghentikan langkahku.

“Yoko……………”, diam sesaat.

“Jangan pergi. Aku mohon jangan pergi……………”, hening.

“Dulu, karena kata-kata ini aku kehilangan kamu, dan sekarang, aku gak mau kehilangan kamu lagi hanya karena kata-kata ini. Mungkin dulu aku adalah seorang pengecut, yang gak berani mengatakan semua perasaan hatiku. Aku takut semua itu gak akan terjadi seperti harapanku. Aku takut kamu malah akan membenciku dan memakiku. Itulah kenapa aku lebih memilih diam, berpura-pura semua akan baik-baik aja. Setelah kita berpisah dan gak pernah bertemu lagi, aku baru sadar semuanya gak baik-baik aja, hidupku sepi dan kosong. Walau banyak teriakan di sekitarku, tapi hatiku sepi. Aku selalu merindukan sosokmu yang lucu, manis, suaramu yang galak, sok jagoan, dan serampangan. Saat mendengar sekolah mengadakan acara ini, aku meyakinkan diri, ini adalah kesempatan terakhirku. Jadi aku mohon, jangan pergi lagi, jangan.”, sambung Juna lagi dengan rentetan ungkapan hatinya yang selama ini terpendam jauh, jauh di dasar lubuk hatinya yang paling dalam dan sempit.

Aku tersenyum, ada perasaan lega saat mendengar semua pernyataannya. Aku berbalik menatap padanya, Juna tengah duduk dengan menundukkan kepalanya dalam. Perlahan aku melangkah mendekatinya dan sekarang aku berdiri tepat di depannya.

“Apa itu artinya sekarang kita berkencan??”, tanyaku setengah mengancam, menurutku.

Juna mengangkat kepalanya, wajahnya terlihat terkejut tapi beberapa detik kemudian raut wajahnya mulai menampakkan gurat-gurat senyum hangat seorang Juna. Semilir angin bertiup sore itu, pohon mangga ini seperti ikut merasakan kebahagiaan yang kurasakan. Bangku dan pohon ini, mereka adalah saksi cintaku yang tertunda.

Ini adalah akhir indah dari pengharapanku. Di sekolah ini, semuanya bermula hingga harus tertunda enam tahun lamanya. Ada banyak suka, duka, manis, pahitnya kehidupan remaja di sini. Cintaku, yang kukira sudah hilang enam tahun yang lalu, ternyata hanya tertunda. Tertunda hanya karena kata-kata “jangan pergi!!”. Terima kasih kamu masih menungguku. Terima kasih kamu masih mengingat semua kisah kita. Terima kasih untuk cintamu yang hangat. Walau waktu sudah menunda kisah cinta kita, aku sepenuhnya sadar bahwa aku benar-benar mencintaimu dan aku yakin kamu juga benar-benar mencintaiku. Aku tidak akan pergi, lagi, tidak akan. Aku akan selalu berada di sampingmu, selamanya. Tapi kehidupan masih panjang, masih banyak kisah yang akan terjadi di masa depan. Berdua kita akan membuat kisah cinta yang tertunda ini menjadi kisah cinta yang hangat dan menyentuh.

 

 

Tampak sepasang anak manusia tengah menonton film di sebuah bioskop ternama dengan dua cup penuh popcorn di tangan mereka.  Mereka penuh senyum bahagia. Terlihat bintang-bintang cinta merah jambu bertebaran di sekitar mereka. Dan terlihat sekilas huruf A1, A2……… 

#END

–  SM – 01042013

 love010

 

 



{29 Maret 2013}   Kampung Kecilku

1

Aku baru tiba di kampung kecilku, Bedeng Kantor yang ada di Tanjung Enim. Rumah-rumah di kampung ini semuanya adalah rumah peninggalan jaman Belanda, dindingnya sangat keras bahkan masih kokoh walau sudah 17 tahun berlalu dan lantainya yang berkeramik kuno, tapi kini sudah tampak banyak perubahan di kampung ini. Dan juga di kampungku ini tanahnya mengandung banyak arang, itulah kenapa telapak kaki akan menjadi hitam kotor jika tidak menggunakan alas kaki. Banyak kenangan indah yang tersimpan di kampung ini. Sejenak aku mengenang masa kecilku. Di sini aku punya banyak teman, belajar, bermain, mengaji, aaahhh semuanya begitu indah dulu. Sekarang, semuanya sudah tidak ada lagi, hanya tinggal cerita masa kecilku. Tidak ada lagi permainan yang dulu sering aku dan teman-temanku mainkan, tidak ada lagi rerumputan, tidak ada lagi capung, tidak ada lagi kupu-kupu, tidak ada lagi rel dan kereta api, tapi masih ada satu hal yang tersisa yaitu pohon asam yang hidup di pekarangan rumah tua yang usang. Duduk ku di atas sumur tua yang sudah tertutup dengan semen cor yang tebal. Pandanganku melayang, melayang jauh ke tujuh belas tahun silam.

 ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

“Atik.. Atik.. ngaji yuuukk.”, teriakku dan teman-temanku yang lain.

“Tunggu sebentar yo.”, teriak Atik dari dalam rumahnya.

Atik adalah temanku yang sebaya denganku, sama-sama baru berumur 7 tahun. Tinggi Atik sama sepertiku, dia juga berkulit putih sama sepertiku. Walau berbeda sekolah tapi sekolah kami satu lingkungan, satu kompleks. Kemudian ada Eni, dia teman satu sekolah Atik bahkan satu kelas dengan Atik. Eni sendiri berkulit hitam. Ada yuk Ika dan Ela yang satu tahun lebih tua dari kami. Hmmm… Yuk Ika itu cantik, berkulit putih. Dan yuk Ela sendiri berkulit hitam. Oh ya, yuk Ela adalah kakak  sepupu Eni. Kemudian ada Ria dan Tata yang kakak beradik, Ria lebih muda dua tahun dariku, sedang Tata lebih muda tiga tahun dariku. Ria dan Tata ini sama-sama cantik, mereka berdua berkulit putih turunan dari kedua orang tuanya. Terakhir Lien, dia adalah adik sepupuku sendiri. Dia lebih muda satu tahun dariku, dia juga berkulit putih. Dan aku sendiri?? Namaku Santi, tapi keluargaku memanggilku dengan sebutan ‘Dedek’ (ada sejarahnya lhooooo, hihi). Aku ingat saat pertama kali bertemu dengan Atik dan yang lainnya saat aku berumur enam tahun kecuali Lien. heheh.. ^^

Akhirnya Atik keluar dari rumahnya dengan jilbab putihnya. Kami menggunakan jilbab hanya saat kami mengaji, maklum kami masih anak-anak. Akhirnya kami menuju langgar (musholah) dengan riang walau siang itu cukup panas. Langgar kami ini tidak terlalu luas, mungkin sekitar 6×8 meter. Hari ini adalah jadwal Atik dan Ria untuk membersihkan langgar. Membersihkan di sini adalah menyapu langgar dengan menggunakan sapu lidi, karena langgar kami menggunakan ambal yang berwarna hijau terang. Sedangkan aku dan yang lainnya menunggu di luar. Di saat itu guru ngaji kami, yang tak lain adalah nenek lanang (kakek, lanang=laki-laki) ku sendiri sudah datang. Nenekku ini sudah berumur 60 tahun, tapi nenekku masih giat mengajar ngaji dan sholat di langgar ini. Subuh-subuh nenekku ini sudah pergi ke langgar, kalau belum ada orang yang datang, beliau sendirilah yang menjadi muadzin. Sekitar pukul 07.00 pagi nenekku pulang ke rumah untuk sekadar sarapan, itupun kalau tidak puasa sunah. Paginya mengajar ngaji, pulang pukul 11 siang untuk makan istirahat dan makan siang. Setelah itu pergi lagi ke langgar untuk sholat dzuhur, siangnya mengajar ngaji lagi. Setelah sholat ashar nenekku pulang untuk istirahat. Jika maghrib sudah datang, nenek kembali ke langgar dan baru pulang sekitar pukul 10 malam. Begitulah yang nenek lanangku kerjakan setiap harinya. 

Setelah Eni dan Ria selesai menyapu, kami semua masuk. Kemudian datang anak laki-laki yang terdiri dari kak Bowo, kak Adit, Edo, Endi, Akbar, dan Jaka. Kak Bowo dan kak Adit satu tahun lebih tua dariku, itu artinya mereka sebaya dengan yuk Ika dan Ela. Kak bowo sedikit tinggi dan berkulit putih, sedang kak Adit tinggi berkulit hitam. Edo adalah adik dari yuk Ika, tapi dia lebih muda dua tahun dariku. Endi sendiri lebih muda satu tahun dariku. Endi cukup tinggi untuk anak seumurannya dan dia berkulit putih. Akbar sebaya denganku, Atik, dan Eni. Dan terakhir Jaka, dia sebaya dengan Tata. Sebelum ngaji dimulai, kami membaca surat Al-Fatihah bersama-sama.

Dalam mengaji nenekku menerapkan aturan, jika sampai tiga kali kami tidak hafal atau tidak bisa membaca bacaan Al-Quran kami saat itu, maka kami akan dipecut (dipukul) tigal kali dengan sebuah pecutan. Aku sendiri bingung, terbuat dari apa pecutan itu. Panjangnya sekitar 70-80 cm, bahannya seperti sabun mandi tapi keras. Jika dipecut sekali saja, telapak tangan atau kaki akan menjadi merah. Hahah.. ^^

Dan hari itu kak Adit dan Akbar tidak hafal bacaan mereka. Alhasil mereka kena pecut.

            “Adit, sudah berapo kali kau dak hafal?”, tanya nenek.

            “Tigo kali nek.”, jawab kak Adit pelan. Kami tertawa kecil mendengarnya.

Kak Adit sudah menyiapkan kedua tangannya, tapi tiba-tiba dia menariknya kembali.

            “Jangan kuat-kuat yo nek.”, pinta kak Adit cengengesan. Kamipun tertawa.

Kak Adit meringis saat dipecut oleh nenek. Hhmmm… Itu pasti sakit. Begitu pula dengan Akbar, mereka berdua mengelus-elus tangan mereka. Setelah semua selesai mengaji, kami bersama-sama membaca doa ibu bapak, surat-surat pendek (surat Al-Asr, surat Al-Falaq, surat An-Nas dan surat Al-Ikhlas) sebagai penutup.

Time to Play.

Setelah selesai mengaji dan mengembalikan peralatan mengaji ke rumah masing-masing, kami berkumpul di halaman kecil dekat langgar. Kami berkumpul lagi bukan untuk mengaji melainkan untuk bermain. Haha.. Kami akan bermain bentengan. Di sini akan dibagi menjadi dua tim. Karena kami semua berjumlah empat belas orang, jadi masing-masing tim punya tujuh anggota. Empat cewek dan tiga cowok. Dan supaya adil itu dilakukan dengan usit. Aku sendiri pun bingung menjelaskan apa itu ‘usit’. Ckckckkc… -,-‘ Bentengan, kebetulan di halaman ini ada dua buah tiang listrik yang berseberangan jauh. Tiang-tiang listrik itupun menjelma menjadi benteng masing-masing tim. Cara bermainnya sih rada sulit, seperti halnya main kejar-kejaran tapi di sini siapa yang lebih dahulu memegang benteng timnya dan tertangkap oleh lawan yang baru memegang benteng timnya maka dia kalah dan menjadi tawanan tim lawan. Untuk bisa lepas sebagai tawanan, anggota tim yang lainnya harus menyelamatkannya. Bisa dengan memegang pundak ataupun tangan sang tawanan. Dan untuk menjadi pemenang dalam permainan ini, sebuah tim harus berhasil memegang benteng tim lawan. Saat kami bermain, debu-debu berterbangan, walaupun begitu kami tetap asyik bermain.

Setelah merasa lelah kami akhirnya memutuskan untuk berhenti bermain. Walau tidak ada yang menang hari ini, kami merasa puas. Baju kami terlihat kotor dan basah karena keringat. Kami pun pulang ke rumah masing-masing dengan puas.

#####

 

2

Hari ini aku bersekolah pagi, karena baru kelas dua SD aku pulang sekolah pukul 10 pagi. Begitu juga dengan Atik dan Eni. Sedangkan Lien yang masih kelas satu SD masuk pukul 10 pagi. Akhirnya kami sepakat untuk pergi bermain ke padang rumput yang ada di dekat kampungku. Jarak rerumputan ini dengan kampungku mungkin sekitar 100 meter. Rerumputan ini sangat hijau, terselip bunga ilalang berwarna putih bak kapas, ada juga rumput liar yang jika tersentuh  pakaian kita akan menempel di pakaian kita itu, kami sering menyebutnya ‘acung-acung’. Rerumputan ini dipisahkan oleh satu jalan aspal dan satu lagi jalan bebatuan. Di rerumputan ini juga ada rel kereta api dan tentu saja terkadang akan ada kereta api pembawa arang yang parkir di sini. Kami terbiasa menyebut kereta api ini dengan sebutan ‘sepur’. Terkadang ada juga sekelompok kambing yang sedang menikmati makan siangnya, ayam milik orang sekitar yang bermain kejar-kejaran, dan anak-anak kecil lainnya yang bermain layang-layang. Di rerumputan ini juga banyak sekali capung (kami sering menyebutnya ‘kinjeng’) dan kupu-kupu yang berwarna-warni. Kami membuat sebuah alat untuk menangkap capung dan kupu-kupu dengan sebatang ranting pohon yang panjang. Di ujung ranting kami pasang plastik besar yang kami ikat dengan karet. Tanpa rasa bersalah sedikitpun kami menangkap capung dan kupu-kupu, setalah menangkap sang capung dan kupu-kupu kami akan melepaskan mereka lagi. Bagi kami anak-anak kecil, ini benar-benar hal yang menyenangkan. Tiba-tiba mataku menangkap sebuah lubang kecil berisi air di dekat dinding jalan. Aku mendekat ke lubang itu. Di sana ada banyak ikan-ikan kecil. Dan dari jalan di atasnya ada air yang mengalir seperti air terjun kecil ke lubang itu. Aku sangat senang melihat ikan-ikan itu. Sedangkan Atik dan Eni masih asyik menangkap capung.

            “Atik… Eni.. sini dulu.”, teriakku memanggil mereka.

            “Ngapo San??”, teriak Eni.

            “Sini dulu. Banyak ikan kecik nah.”, teriakku lagi.

Akhirnya Atik dan Eni mendekatiku. Mereka terlihat penasaran.

            “Mano San??”, tanya Atik.

            “Ini nah.”, balasku tersenyum sambil menunjuk lubang air itu.

Atik dan Eni saling berpandangan heran.

            “Ini kan kecebong Saaaan.”, jawab Eni sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

            “Iyo San, ini kecebong. Hahah…”, timpal Atik lagi sambil tertawa geli.

Eeehhh?? Kecebong?? Aku cuma bisa bengong, malu dan akhirnya paham kalau itu adalah kecebong alias anak katak. Ternyata aku belum bisa membedakan mana itu ikan, mana kecebong. Hahah… xD

Tak terasa, matahari sudah berada tepat di atas kepala kami. Tapi kami tetap asyik dengan kegiatan kami, dan sayup-sayup terdengar suara adzan, waktunya sholat dzuhur. Kami bergegas pulang ke rumah, kami juga harus mengaji lagi siang ini. Kami mengaji setiap hari tanpa diminta bayaran apapun. Jika sekolah pagi maka mengaji siang, jika sekolah siang maka mengaji pagi. Bahkan kami boleh belajar mengaji pagi dan siang jika kami mau. ^^

Nenek tino (nenek perempuanku, diambil dari kata betina/o) sudah mengenal kebiasaanku, ketika aku pulang dari bermain dia langsung menyuruhku untuk sholat dan makan. Setelah makan, aku langsung bersiap untuk pergi ke langgar. Hari ini giliranku dan Eni piket membersihkan langgar. Seperti biasa kami mengaji, membaca surat Al-Fatihah saat mulai, membaca doa ibu bapak, surat-surat pendek (surat Al-Asr, surat Al-Falaq, surat An-Nas dan surat Al-Ikhlas) saat berakhir. Peraturan pecutpun tetap berlaku setiap hari. Kekkeke…

Setelah selesai mengaji, kami berjanji berkumpul lagi di halaman dekat langgar. Tapi yang datang cuma aku, Lien, Atik, Eni, kak Adit, Akbar dan Endi. Padahal kami berencana ingin bermain bentengan lagi. Tapi karena anggotanya kurang kami mengubah rencana, mencari buah asam. Di dekat rerumputan ada pohon asam besar yang tumbuh di pekarangan rumah tua. Sebenarnya rumah ini ada yang menunggunya, tapi jarang terlihat oleh kami, jadi kami langsung mengambil saja buah asam yang sudah berjatuhan tanpa permisi, kekekek… Buah asam ini benar-benar terasa enak, asam, manis semua ada. ^^v Tapi terkadang kak Adit suka menakut-nakuti kami, alhasil kami akan berlari tunggang-langgang karena ketakutan walaupun di siang hari. T.T

#####

 

3

Malam ini nenek tino akan bercerita lagi padaku dan Lien. Seperti dongeng sebelum tidur. Tapi uniknya, saat nenek tino bercerita kami memijat kakinya. ^^ Malam ini dongeng yang akan diceritakan adalah dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih.

Versi nenekku ini, Bawang Merah dan Bawang Putih adalah saudara tiri. Ayah Bawang Putih adalah seorang pedagang. Selepas ibu Bawang Putih meninggal dunia karena diracuni Bawang Merah dan ibunya (tanpa diketahui Bawang Putih dan ayahnya), sang ayah menikahi ibu Bawang Merah agar Bawang Putih tidak merasa kesepian. Sang ibu tiri dan saudara tirinya selalu bersikap manis saat di depan sang ayah, tapi jika sang ayah pergi untuk berdagang maka sang ibu tiri dan Bawang Merah akan menyiksa Bawang Putih. Membereskan rumah, mencuci baju, memasak, bahkan mencari kayu bakar, semua harus dilakukan Bawang Putih setiap harinya. Dan penderitaan Bawang Putih semakin menjadi-jadi tatkala ayahanda tercintanya meninggal karena sakit.

Sampai suatu hari Bawang Putih tengah mencuci baju sang ibu tiri dan Bawang Merah di sungai. Tetapi malang terjadi, baju sang ibu tiri terhanyut. Bawang Putih mencoba mengejar baju itu, tapi tidak berhasil. Bawang Putih terus mencari hingga sore hari, tetap saja dia tidak berhasil menemukannya. Bawang Putih pun menangis sedih. Tiba-tiba Bawang Putih mendengar ada yang memanggil-manggil namanya.

            “Bawang Putih… Bawang Putih…”

Bawang Putih mencari-cari sumber suara itu. Alangkah terkejutnya Bawang Putih tatkala dia tahu sumber suara itu berasal dari seekor ikan mas yang ada di sungai itu.

            “Kau siapa??”, tanya Bawang Putih sedikit takut.

            “Jangan takut Bawang Putih. Aku ikan mas, jangan bersedih lagi, aku akan membantumu menemukan baju ibu tirimu.”, balas ikan mas.

            “Bagaimana bisa kau menemukannya?? Baju itu sudah lama hanyut di sungai.”, tanya Bawang Putih lagi, sedih.

            “Jangan khawatir, aku akan mencarikannya untukmu. Kau tunggulah di sini saja Bawang Putih.”, balas ikan mas lagi.

Akhirnya Bawang Putih setuju dengan ikan mas itu. Setelah beberapa lama menunggu, sang ikan mas kembali dengan sebuah baju berwarna merah milik sang ibu tiri. Bawang Putih benar-benar berterima kasih pada sang ikan mas.

             “Terima kasih ikan mas, kau sudah menolongku. Aku harus segera pulang, ibu tiriku pasti marah padaku karena aku sudah terlalu lama di sini.”, kata Bawang Putih berterima kasih.

             “Jika kau ingin mencariku, panggil saja aku, ikan mas sebanyak tiga kali. Aku akan datang menemuimu.”, balas ikan mas.

Akhirnya Bawang Putih dan ikan mas berteman baik. Setiap kali Bawang Putih mencuci di sungai, ikan mas akan membantu Bawang Putih. Begitu pakaian kotor dicelupkan ke dalam sungai, pakaian itu akan bersih dengan sendirinya. Hingga akhirnya Bawang Putih membawa sang ikan mas pulang ke rumahnya. Bawang Putih meletakkan ikan mas ke dalam gentong air yang ada di belakang rumah tanpa sepengetahuan sang ibu tiri dan Bawang Merah.

Di sisi lain, di sebuah kerajaan, sang Raja tengah sakit keras. Hanya ada satu tanaman obat yang bisa menyembuhkannya, tanaman berdaun emas. Tapi sang Pangeran sudah mencari ke semua pelosok negeri, tetapi belum juga menemukan tanaman emas itu.

Sang ibu tiri dan Bawang Merah merasa curiga pada Bawang Putih, karena semua tugas berat yang diberikan pada Bawang Putih bisa diselesaikan Bawang Putih dengan baik. Akhirnya mereka tahu jika selama ini Bawang Putih dibantu oleh seekor ikan mas ajaib. Tanpa sepengetahuan Bawang Putih, sang ibu tiri dan Bawang Merah memasak dan memakan habis daging ikan mas ajaib itu. Bawang Putih hanya disisakan kepala dan duri dari ikan mas ajaib. Bawang Putih sedih dan menangis, tapi tiba-tiba ada suara terdengar.

                “Jangan menangis Bawang Putih. Kuburkan saja kepala dan duri tulangku ini.”, Bawang Putih yakin itu permintaan dari sang ikan mas ajaib.

Kemudian Bawang Putih menguburkan kepala dan duri-duri tulang sang ikan mas ajaib. Hari demi hari tumbuhlah sebatang pohon berdaun emas dari tempat dimana ikan mas dikuburkan. Bawang Merah dan ibunya terpana melihat pohon berdaun emas itu.

Dan suatu hari sang pangeran melintas di desa Bawang Putih dan sangat senang melihat pohon berdaun emas itu. Setelah sekian lama, akhirnya dia menemukan obat untuk sang ayahanda Raja. Sang pangeran pun bertanya siapa pemilik pohon berdaun emas ini. Sang ibu tiri dan Bawang Merah pun berbohong, mereka mengaku pada sang pangeran bahwa merekalah pemilik pohon itu.

               “Bolehkah aku memiliki pohon ini? Sudah sekian lama aku mencari-cari pohon ini untuk obat ayahanda Raja.”, tanya pangeran.

               “Oohh tentu, tentu saja pangeran.”, jawab ibu tiri dengan harapan sang pangeran akan menikahi Bawang Merah.

               “Bawang Merah, ayo cepat kau cabut pohon ini, lalu berikan pada sang pangeran.”, perintah ibu pada Bawang Merah.

              “Baik ibunda.”, jawab Bawang Merah.

Tapi ternyata Bawang Merah tidak bisa mencabut pohon itu walau sudah dibantu oleh ibunya. Bahkan mereka sampai terjatuh. Akhirnya Bawang Putih yang sedari tadi mendengar semuanya, memberanikan diri menghadap sang pangeran.

            “Maaf pangeran, jika hamba lancang. Saya Bawang Putih, pemilik pohon ini. Sekiranya izinkanlah saya mencabut pohon ini untuk pangeran.”, pinta Bawang Putih hormat.

             “Baiklah, silahkan kau mencabut pohon ini Bawang Putih.”, perintah pangeran.

Hanya dengan sekali saja Bawang Putih berhasil mencabut pohon berdaun emas itu. Akhirnya Bawang Putih dibawa pangeran ke istana untuk dijadikan istri. Saat Bawang Putih dan pangeran pergi menuju istana, tiba-tiba keluar air yang sangat banyak dari lubang tempat pohon berdaun emas itu hingga akhirnya menenggelamkan Bawang Merah dan ibunya. Sedang Bawang Putih dan Sang Pangeran hidup bahagia selamanya. The End. 

Nenekku menceritakan Bawang Merah dan Bawang Putih ini secara detail dengan dialog-dialog singkatnya. Itulah kenapa aku dan Lien tidak pernah bosan mendengarkan cerita dari nenekku. Kami pun mulai mengantuk, selesai dongeng maka selesai pula tugas memijat kami. Kami harus tidur, besok kami harus bersekolah lagi.

#####

to be continued

– SM – 29032013



{28 Maret 2013}   Rindu Mereka

28032013

Malam ini begitu sunyi. Suara jangkrik pun tidak terdengar, hanya terdengar suara berisik yang kubuat saat menekan keyboard laptopku dan suara angin dari kipas angin reot yang kunyalakan. Kunyalakan pula dispenser untuk membuat segelas kopi panas. Sebenarnya mataku sangat lelah, tapi aku tetap tidak bisa tidur, kuputuskan untuk membuat segelas kopi panas. Malam ini tiba-tiba saja aku teringat kakek nenekku (dari sebelah ibuku) yang sudah kembali ke sisi Allah S.W.T. Sepertinya aku merindukan mereka, ah tidak, aku merindukan mereka setiap hari. Mataku terasa perih ketika mengingat mereka, suara mereka, kebaikan mereka, jasa mereka yang ikut andil dalam hidupku, dongeng mereka, semuanya, semua yang ada pada mereka. Sebenarnya aku tidak terbiasa memanggil mereka kakek dan nenek. Karena di kampungku panggilan untuk kakek adalah nenek lanang dan nenek adalah nenek ino (diambil dari kata betina/0). Di sini juga untuk tante dipanggil cicik dan oom dipanggil mamang. Kampung nenekku adalah kampung kecil yang bernama Bedeng Kantor, itu salah satu kampung yang ada di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, Palembang. Sampai sekarang aku pun belum tahu kenapa namanya Bedeng Kantor. Di kampungku akhir kata di setiap pembicaraan yang akhirannnya huruf vokal ‘a’ akan berakhir dengan huruf ‘o’. Aku tinggal di rumah nenekku lebih kurang empat tahun, dari aku kelas satu SD sampai kelas empat SD. Karena aku bersekolah dekat dengan rumah nenekku dan juga aku tengah belajar mengaji dengan nenek lanangku. Aku akan dijemput ayah ibuku pada hari Sabtu sore, kemudian hari Minggu sorenya aku akan diantar lagi ke rumah nenekku. Begitu terus-menerus selama empat tahun. Aku kembali ke rumah ayah-ibuku karena mamangku sudah menikah dan ibuku tidak mau merepotkan mamangku itu. Aku mulai tinggal di sebuah kompleks perumahan yang awalnya sedikit sepi. Aku tidak punya teman, khususnya perempuan. Karena tetangga yang sebaya denganku semuanya anak laki-laki, kalaupun ada perempuan mereka lebih tua beberapa tahun dariku.

Aku teringat, saat itu tepatnya tanggal 13 Januari 2009, ini adalah hari nenek lanangku kembali ke sisi Allah S.W.T. dan hari sebelumnya tanggal 12 Januari adalah hari ulang tahun ayahku. Aku sengaja menelpon ayahku untuk mengucapkan selamat dan doa untuk ayahku, kemudian ayahku berkata kalau nenek lanangku masuk rumah sakit lagi. Saat itu aku hanya berkata dalam hati ‘ah mungkin hanya sekadar cuci darah seperti biasa’. Tidak ada firasat apapun yang hadir. Tapi saat subuh menjelang, aku bangun dan mendapati ada sepuluh kali lebih missedcall di handphoneku dan lima sms. Saat kubuka ternyata semuanya dari ayahku,. Aku sedikit terkejut dan takut ‘apa yang terjadi?’, batinku. Dengan ragu kubuka sms itu, dan ternyata sms itu mengabarkan kalau nenek lanangku meninggal dunia. Ludahku tercekat di tenggorokan, aku terdiam, tak percaya. Kemudian aku telpon ayahku.

           “Assalammu’alaikum dek…”, terdengar suara ayahku dari seberang sana.

          “Wa’alaikumsalam yah..”, balasku.

          “Yah, nenek lanang nian lah ninggal??”, tanyaku.

          “Iyo dek, semalem. Ayah langsung nelpon kau tapi dak diangkat. Baleklah dulu pagi ini, ajak cik Diah jugo.”, balas     ayahku.

          “Iyo yah, gek dedek langsung balek samo cik Diah. Yo sudah dulu yo yah. Assalammu’alaikum.”, balasku kemudian.

         “Wa’alaikumsalam.”, jawab ayahku.

Aku benar-benar sedih tapi tidak bisa menangis. Aku langsung memberitahu tanteku tentang berita ini. Tanteku ini hanya satu tahun lebih tua dariku. Dia adalah anak dari adik bungsu nenek lanangku. Namanya Diah, kebetulan aku dan dia satu kampus dan satu kost di Indralaya. Paginya kami langsung bersiap untuk pulang kampung. Tapi bus yang lewat semuanya penuh, akhirnya baru pukul 09.30 kami mendapatkan bus.

Saat di jalan aku begitu sedih, menatap jalan dari balik jendela bus. Pipiku terasa hangat, airmataku menetes perlahan, fikiranku hanya ingin cepat-cepat sampai di kampungku. Saat itu jalanan tidak seramai sekarang, hanya butuh tiga jam lebih untuk sampai di kampungku. Aku sampai di kampungku pukul 1 siang. Dan saat aku sampai, ternyata jenazah nenek lanangku sedang disholatkan di langgar dekat rumah. Setelah selesai disholatkan, aku mencari ayahku. Ayahku menyuruhku untuk langsung masuk ke bus yang akan berangkat ke makam. Di dalam bus itu aku terus menangis, ada rasa menyesal di benakku ‘kenapa aku tidak langsung pulang saat ayah bilang nenek sakit??’. Aku benar-benar menyesal tidak bisa bertemu dengan nenek lanangku untuk yang terakhir kalinya. Saat di pemakaman dan jenazah siap dimasukkan ke liang lahat, aku berbisik pada ayahku.

          “Yah, dedek nak liat muko nenek lanang yah.”, bisikku sambil menangis pelan.

Ayahku menangguk.

         “Jum..  bukaken dikit, dedek nak liat muko bak”, kata ayahku pada pada adik iparnya. Nama mamangku ini Jum. (bak di sini adalah bapak)

Kemudian mamangku membuka sedikit kain kafan pada wajah nenek lanangku. Tapi aku, aku tak sanggup untuk melihatnya. Yang ada, aku semakin menangis histeris. Aku menangis keras sambil memeluk ayahku. Airmataku mengucur deras, kelopak mataku tak bisa menahan kucuran airmata yang keluar.

           “Sudah jum, sudah, tutuplah.”, kata ayahku lagi.

Akhirnya aku tetap tidak bisa melihat wajah nenek lanangku untuk yang terakhir kali. Aku terus menangis sampai liang lahat itu tertutup tanah. Ibuku mendekatiku, memelukku, dan berbisik padaku:

           “Sudah, jangan nangis kayak gitu. Dak boleh. Biarlah nenek lanang istirahat.”

Aku hanya bisa mengangguk sambil menyeka airmataku. Banyak orang yang bertanya pada yang lain, ‘kenapa aku menangis seperti itu?’. Mereka cuma bisa menjawab “itu cucunya”.

Saat malam harinya, aku termenung. Aku begitu sedih, aku teringat masa lima tahun yang lalu. Nenek ino-ku meninggal tepat di hari ulang tahunku yang ke-15. Saat itu aku masih kelas tiga SMP. Dan ibuku bercanda padaku, jika hal itu adalah hadiah untukku. Saat itu aku masih sedikit kecil, jadi aku langsung menangis tersedu-sedu saat ibuku bilang kalau meninggalnya nenek ino adalah hadiah ulang tahun untukku. Tetapi aku juga sedikit terhibur, karena teman-teman dekatku saat itu ingat akan hari ulang tahunku, mereka menghiburku dan memberikanku sebuah kado.

Dan aku juga baru ingat, seminggu sebelum nenek lanang meninggal, beliau memanggil aku dan sepupuku Kiki. Kebetulan hari itu kami menginap di rumah nenek.

          “Kiki, Dedek.. Itunah dipanggil nenek.”, kata tanteku sambil mendekati kami.

          “Ngapo cik??”, tanyaku kemudian.

          “Naah.. dak tau cicik, coba ke sanolah dulu.”, jawab tanteku.

Akhirnya aku dan sepupuku mendekati nenek.

         “Nek.. ngapo nek?”, tanyaku pada nenek lanang.

         “Sini dulu kamu beduo tu, duduk dulu deket nenek.”, jawab nenek lanangku.

Saat itu nenek lanangku tidur di atas dipan kecil yang hanya muat untuk satu orang, jadi aku dan sepupuku duduk di bawah. Dan malam itu aku dan sepupuku diberi nasihat oleh nenekku.

           “Aiiiiyy.. nenek nih dak bakal lamo lagi.”, kata nenekku tiba-tiba. Aku terdiam, ingin menangis tapi aku malu.

           “Jangan lupo sholat kamu tuh, jangan lupo ngaji, jangan melawan wong tuo, rajin-rajin belajar.”, sambung nenekku.

Aku dan sepupuku hanya bisa mengangguk. Dan kami juga diajarkan beberapa doa oleh nenek lanang malam itu. Aku baru sadar, ternyata malam itu adalah malam untuk terakhir kalinya aku ngobrol dengan nenek lanangku.

######

Aku baru sadar, aku sama sekali belum menyentuh gelas kopiku. Kopi panasku sudah berubah menjadi dingin, sama seperti angin yang menyentuh kulitku saat ini. Langsung kutenggak saja kopi dingin itu sekaligus walau tak terasa nikmat, tak mau aku berbagi dengan semut-semut kecil itu. Dan sekarang fikiranku kembali melayang, kembali ke masa kanak-kanakku. Kampung kecilku yang ramai, langgar tempatku belajar sholat dan mengaji, teman-teman masa kecilku, permainan (tradisional) masa kecilku, botol minumku yang kuisi dengan seekor kecebong, pohon asam yang hidup di dekat rumah usang yang kosong, capung, kupu-kupu, kereta api, rerumputan, aku rindu semuanya, dan aku juga rindu satu hal, ‘hukuman’ yang selalu diberikan nenekku saat aku menjelma menjadi seorang anak kecil yang nakal.

######

to be continued

Copy of DSC05866

(gambar keponakanku dan adik sepupuku)

–  SM –   28031013



{28 Maret 2013}   Cinta <3

Cinta – buat sebagian orang cinta itu indah sekalee, tapi buat sebagian orang lagi cinta itu menyakitkan (apalagi buat yang lagi patah hati, ^^v). Terkadang kalo difikir-fikir yang dibilang orang kalo “lebih baik dicintai daripada mencintai” emang benar adanya. Lebih baik menerima cinta dari orang yang benar-benar mencintai kita dengan tulus, daripada harus mencintai orang yang tidak dan tidak akan pernah mencintai kita.

Luka cinta di masa lalu tidak akan dengan mudah bisa terobati begitu saja, pasti terasa sulit. Jatuh cinta pada orang yang salah, jatuh cinta pada orang yang tidak akan pernah membalas cinta itu, benar-benar terasa hampa. Dunia terasa pahit (sepahit daun pepaya????), bahkan lidahpun terasa pahit saat menyentuh makanan enak (lagi sakit kaleeee…). ‘O,o

Mulai mencoba mencari cinta yang baru?? (so what???). Takut semua yang terjadi di masa lalu terulang lagi, kata kerennya “trauma cinta”, ckckckk.. Sekarang yang terpenting yaitu percaya bahwa Allah S.W.T. akan memberikan jodoh yang terbaik. Jalani takdir hidup dengan ikhlas. Hidup, mati, rezeki, jodoh, semua Allah S.W.T.  yang mengatur. Bersabarlah, jika tiba masanya dia kan hadir, hadir mengisi kekosongan hidupmu………………………….. Semangat….!!!! ^^v

1180714125

-SM- 26032013

 

 



{28 Maret 2013}   Takdir

Dulu, dunia ini sangat manis bagiku…

Begitu bangga bisa hidup, bernafas, berdiri di dunia ini…

Semua terasa hangat, begitu hangat…

Sekarang, dunia ini tak semanis dulu, bahkan terasa dingin…

Aku tak sebangga dulu untuk hidup, aku ketakutan…

Melarikan diri dari semuanya?? PENGECUT…!!!

Ini semua kelalaianku, aku lupa waktu terus berjalan…

Ini jalan hidup yang aku buat, aku sendiri…

Mancoba memperbaiki semuanya, melanjutkan apa yang menjadi takdirku…

Hanya percaya satu hal, Allah tak akan pernah meninggalkanku…

gadis-berpayung

(gambar diambil dari pacarkecilku.com)

-SM- 26032013

 



{5 Februari 2013}   Cornetto Magic (7days)

Kemaren aku iseng-iseng ikutan Cornetto Love Journey gitu. Gak tau sih yang dipinta itu kisah nyata atau karangan doank. Yang penting ikutan aje. kekekek… ^^v

Sebenernya yang aku bikin mah bukan cerpen, tapi kayak ilustrasi gitu. Naaaah, kisahnya aku kasih judul “Cornetto Magic (7days)”. =P Ini nih ilustrasinya:

kartun

Cornetto Magic (7days)

Hari pertama, gue ke mini market deket kompleks rumah gue buat beli es krim favorit gue, Cornetto rasa cokelat. Dan gue ketemu sama tetangga baru gue. Namanya Raka, cakep asli tuh cowok. Dia rajin banget nongkrong di taman kompleks tiap sore, entah itu sepedaan, maen basket, atau sekedar nongkrong. Hahah..

Hari kedua, pas pulang sekolah gue ketemu lagi sama Raka di mini market. Raka tersenyum geli pas liat gue beli banyak banget es krim. Malu gue. xD

Hari ketiga, gue iseng-iseng maen sepeda ke taman deket kompleks rumah gue, pengennya sih biar bisa liat Raka. Hehe. Dan gak lupa gue bawa es krim Cornetto rasa cokelat favorit gue. Sebelum makan tuh es krim, gue selalu bilang |Cornetto, gue pengen liat Raka sore ini| sambil gerakin jari-jari tangan gue di atas tuh es krim. Dan ternyata gue liat Raka lagi maen sepeda keliling kompleks. Huaaaa hahaha.. =)

Hari keempat, gue nongkrong lagi di taman kompleks dan kali ini gue bilang |Cornetto, gue pengen banget Raka senyum sama gue|. Dan lagi-lagi ada Raka yang lagi maen basket bareng temen-temennya. Dia liat gue, terus senyum sama gue. Kkekekek… xD

Hari kelima, lagi-lagi gue nongkrong di taman buat CCP (Curi-Curi Pandang) ke Raka dan kali ini gue bilang |Cornetto, gue pengen banget Raka nyamperin gue dan ngobrol sama gue|. Tapi di hari kelima ini Raka gak nongol, gak tau deh dia kemana. =((

Hari keenam, hari ini gue gak bisa ke taman kompleks. Gue sama mama mau jemput ponakan gue yang umurnya baru 4 tahun. Soalnya kakak gue masuk rumah sakit, jadi gak ada yang jagain ponakan gue. =’/

Hari ketujuh, gue ngajakin ponakan gue maen ke taman kompleks. Lagi asyik-asyiknya maen, tiba-tiba ponakan gue bilang kalo dia mau es krim. Tepok jidat, gue lupa beli es krim. Gue ngayal, ada yang ngasih gue es krim biar gue gak mesti jalan ke mini market (haha) dan gak sengaja gue teriak |Cornetto, Cornetto, Cornetto| sampe semua orang liatin gue. Hihihi.. Tiba-tiba, ada seseorang yang berdiri di depan gue sambil bilang |Nih buat loe sama adek loe|. Awalnya gue cuma bengong, Raka, Raka ngasih gue satu kotak Cornetto mini?? Woooww… Akhirnya gue, ponakan gue dan tentunya sama Raka, kita maen bareng dan kita makin akrab donk. Terus gue bilang ke Raka,|Rak, dia bukan adek gue, tapi ponakan gue|. ^^End

********

Hahaha.. nih cerita aku bikin asal jeblak aje. Ada ide langsung dah diketik. Entah bagus atau kagak yang penting nulis. Itung-itung ngurangin stress lah, hahah.. =D  Sebenernya ada satu lagi cerita yang aku bikin. Judulnya “Cinta Pangeran Tokek”. hahha… Geli ndiri gua baca judulnya. Okeh deh kalo gitu see ya di postingan berikutnya. Bye bye.. \(^,^)/

 



Hmmmm… akhirnya aku nulis lagi ni. Kali ini aku mau bahas tentang film romance Thailand tahun 2010, A Little Crazy Thing Called Love. Film ini diperanin sama Mario Maurer as Shone dan Pimchanok Luevisetpaibool as Nam. Aku nonton ni film bisa dibilang dua tahun lalu. Tapi gak tau kenapa, belakangan ini aku pengen bener nonton ni film lagi. Alhasil, yaaaa aku nonton lagi. Kekkeke.. xD Oh ya, berkat ni film aku jadi suka film-film romance Thailand, terutama yang diperanin sama Mario, kkekekk…

A Little Crazy Thing Called Love ini ceritanya tentang seorang pelajar SMP yang bernama Nam yang diam-diam menyukai kakak tingkatnya yang bernama Shone. Dengan wajah yang bisa dibilang meragukan (hehhe), Nam sama sekali gak minder buat bersaing dengan gadis-gadis lain yang lebih cantik di sekolahnya. Malah dengan kekuatan cinta, Nam berubah jadi kupu-kupu yang cantik. Dan ternyata cinta Nam tidaklah bertepuk sebelah tangan. Shone juga suka sama Nam, tapi mereka sama-sama nyembunyiin perasaan mereka. 

cover

 

Di film ini yang bikin aku bengong itu makeup artisnya. Awalnya aku ragu, tuh yang maen si Pimchanok Luevisetpaibool atau ada dua orang sih yang peran jadi Nam??? Tapi saking seringnya aku nonton ni film, akhirnya percaya juga kalo itu Pimchanok Luevisetpaibool. Kkekeke… ^^v

p1

Di awal ni film, ada prolog dari Nam. Ini ni prolog-nya:

“Semua dari kita, memiliki seseorang yang tersembunyi di dasar hati”

“Ketika kita berfikir tentang dia, kita akan merasa seperti ummmmm…..”

“Selalu merasa sedikt sakit di dalam”

“Tapi kita masih ingin mempertahankan dia”

“Meskipun aku tidak tahu dimana dia sekarang”

“Apa yang dia lakukan”

“Tapi dia adalah orang yang membuatku tahu tentang hal ini…”

………………………

“Hal yang sedikit gila, yang disebut CINTA…”

A Little Crazy Thing Called Love

Adegan yang paling berkesan buat aku di film ini, hhmmmm.. saat Shone ngebuka buku (bisa dibilang keq diary gitu deh) yang isinya foto-foto Nam semua. Dari Nam yang masih buruk rupa (hehehe…) sampe Nam berubah jadi putri beauty. Mana pas adegan ini diiringi lagu “Someday”-nya Queen lagi, makin mengharu biru. >,<’ hikkss…

Niiiiii aku bikin semua ni foto-foto ya, muter ni film dulu via youtube pake high quality, printscreen ni foto sampe 112 foto. Klo mau diupload semua aku yang tepar, makanya aku bikin satu slide itu 10 foto, hahah… xD

Di foto-foto ini ada catatan-catatannya Shone….

Pict 1:

p2

Di foto ini, awal Shone buka buku rahasianya, yang ternyata wooouuuwww.. daebak membahana, foto Nam bro.. =D Shone juga foto buku punya Nam tentang 9 cara mendapatkan kekasih (klo gak salah, lupa soalnya -,-).

Pict 2:

p3

Di sini Shone nulis di bukunya:

– “Buku ini lucu, tapi ini membuatku tahu betapa kau (Nam) telah banyak mencoba”.

– “Aku ingin memberitahumu bahwa kau telah berhasil sejak awal kau mencoba”.

Pict 3:

p4

Pict 4:

p5

Di pict 3 sama 4, Shone kelihatan seneng waktu liat Nam berubah jadi cantik. ^^b. Terus Shone nulis:

– “Bersentuhan tangan untuk pertama kali, tapi aku harus melepaskannya karena orang lain akan curiga”.

Ni adegan, pas pangeran mau kissu snow white. Pas latihan awal yang disuruh Shone, si Nam mah girang bener, dia mejem. Eehhh pas Nam melek, ternyata udah ganti temennya yang iiuuuhhh… Nam berdiri, mundur, terus hampir jatoh dah klo kagak dipegangin sama Shone. Itu adegan Shone pegang tangan Nam untuk pertama kalinya. Hahah… romance romance. >,<”

Terus Shone nulis lagi:

– “Memberi dia apel, tapi aku gigit sedikit”. Woouuuw woouuuww… gigit gigit apel.

Pict 5:

p6

di pict 5 ini, Nam lagi latihan maen tongkat gitu buat jadi leader drumband / marchingband sekolahnya. Nam ditunjuk ibu guru yang cute cute (Guru Inn, wooow) buat gantiin temennya yang cidera gara-gara berantem berebut buat foto sama Top (sahabatnya Shone).

Di sini Shone juga berhasil bikin gol via tendangan finaltinya (walau cuma latihan). Tapi berkat gol ini, Shone jadi percaya diri buat gabung di tim bola sekolah. Nam juga jadi makin semangat latihannya. ^^v

– “Kau menjadi lebih baik, Semangat Nam!!!!!”.

Pict 6:

p7

Di pict 6 ini, di rumahnya Shone nanem bunga mawar putih.  Biar ntar pas Valentine Day dia mau kasih tuh bunga buat Nam. Ternyata dia gak berani bilang, malah bilang klo itu dari Top. Hiikkss… =’((

– “Hari ini, aku memberikan mawarnya pada Nam. Kukatakan itu dari temanku, itu karena aku tidak bisa berkata”.

Di sini ada tulisan Shone lagi:

– “Cinta bisa memenangkan segalanya, terutama rasa takut”. Aku suka banget ni sama ni kata-kata.❤❤❤

Terus Shone nulis lagi:

– “Hari pertama, sangat sulit tumbuh (bunga mawar), dengan satu cacing”. 

Yang paling bikin sedih:

– “Hari ini, aku melihat Top menembaknya (Nam). Kau tahu, aku sakit. Kenapa waktu kita tidak pernah cocok?????”. Huaaaaaaaaaa….. >,<”””

Pict 7:

p8

Di foto ini Nam jadi Cantik bener. Dia jadi leader gitu. Wuiiihh… si Shone mah kagak mau nyia-nyiain waktu. Jepret.. kekkeek…

Di sini Shone, Top, Nam, sama temen-temen mereka lagi jalan-jalan. Pas di jembatan gitu Nam jatoh, jadi digendong deh sama Top. -,-‘ (kenapa gak Shone aje gitu?????) RRRRrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…………….

Shone nulis: – “Aku juga ingin kau naik ke punggungku”

Di sini juga Shone bilang:  “Nam, Maukah kau jadi pacarku???”.

Tapi Nam nya udah pergi nooohh sama Top. Ckkckckck….

Pas ngerayain ultah temen mereka, tiba-tiba Top kissu pipinya Nam, aiiihh Nam + Shone syok daebak dah,,, si Top mah asal nyosor wae yeee… hehhe…

Pict 8:

bisa liat kan gimana syoknya Shone + Nam ???????????????????????????????????

p9

akhirnya Nam dapet juara 1 di sekolahnya, itu artinya Nam dapet tiket pesawat ke Amerika dari ayahnya, yang artinya Nam pindah sekolah ke Amerika. =’(( sedang Shone sendiri masuk ke tim sepak bola nasional. Tapi Shone ninggalin secret book-nya itu buat Nam lhooo… ho ho ho.. =P

Pict 9:

p10

Yang mana akhirnya Nam menangis dengan pilu. Aseli mewek membahana gua. =’(((((((

Pas di semua adegan ini, dari pas Shone ngebuka bukunya di foto 1 sampe foto 10 ini aku nangis sejadi-jadinya. Kisahnya ngena banget. =’(((

and the last pict, Pict 10:

p11

Setelah 9 tahun gak ketemu, akhirnya Shone dan Nam dipertemukan kembali dalam sebuah wawancara live getooo… akhirnya Nam nanya ke Shone:

– “Apakah kau sudah menikah???”.

Terus Shone ngejawab,

– “Aku……… Aku hanya sedang menunggu seseorang kembali dari Amerika”.

Ni film Thailand pertama yang bikin aku mewek… banjiiiiirrr…. Ceritanya simple tapi cakep. Alur cerita yang simple, gak bikin para penonton ribet atau pusing ngebayangin plotnya. Tapi feelnya berasa bener. Persahabatan yang kental antara Nam dan tiga orang temennya juga poolll jempol. Heheh… d^^b

 Dari film ini satu kalimat Shone yang paling aku suka:

“Cinta bisa memenangkan segalanya terutama rasa takut”.

Yuupppss…. Mungkin cukup sampe di sini tulisan kali ini. Ntar aku mau nulis tentang lagu soundtrack ni film yang judulnya Someday by Queen. Maknanya dalem pool.. makanya aku suka. Ehehhe….. 

,,,,,,,,,,,d(^^)b,,,,,,,,,,,,



{25 Maret 2012}   Skin Facebook-ku >>> Onew

Temen2 pasti udah pada tau sama Facebook Skin, sejenis kaya’ background gitu, tapi ini untuk background-nya si Mr. Facebook. #mungkin udah dari 3 tahun yang lalu kali ya?? Dari jaman dulu bener, aku pengen punya tampilan facebook kaya’ blog gini. Setelah sekian lama akhirnya kesampean juga. Semaleman ngutak-ngatik internet buat bikin Facebook Skin kaya’ gini. Dan hasilnya “nice”, facebook-ku semakin manis dengan terpampangnya idol muda Korea SHINee’s Tofu Leader “Onew”, kekekkek…😀

Download inilah, download itulah, instal inilah, instal itulah. Saking penasarannya, bertarunglah malam ini. Dengan baca panduan dari http://facebookskin.com/movie/skin-facebook-com-with-userstyle-for-mozilla-and-opera/ terbantu juga. Bisa2 jadi makin betah facebook-an gara2 ada si Dubu (Tofu) ini, hhahaha…😀 Facebook Skin ini juga bisa diganti2 sesuai selera kita. Klo bosen sama skin yang lama bisa diganti sama skin yang baru. #tapi udah coba berulang2 buat dapetin skin Dubu yang lebih cute, tapi kagak ada.😦

Yaaahhh setidaknya facebook-ku lebih manis sekarang dengan adanya si Dubu. Klo ada skin Dubu yang baru kan tinggal di-manage styles aje, hhee..🙂 Ayo ayooo siapa yang mau coba, bisa liat di http://facebookskin.com/movie/skin-facebook-com-with-userstyle-for-mozilla-and-opera/.

Hwaitiiiinnngg….. \(^,^)/



et cetera